Cara Berpikir Yang Salah

Cara Berpikir Yang Salah.

Agar bisa menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan kita harus berjuang dengan segenap jiwa dan kekuatan kita.

Ada langkah-langkah untuk dapat menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan atau bersukacita di dalam Tuhan.

Paling utama untuk bisa bersukacita di dalam Tuhan atau menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan adalah mengubah cara berpikir yang salah kemudian membangun cara berpikir yang baru yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Seseorang tidak akan dapat menjadikan Tuhan sumber kebahagiaan atau bersukacita di dalam Tuhan, kalau tidak memiliki cara berpikir yang benar.

Cara berpikir sangat menentukan suasana jiwa seseorang. Misalnya seorang yang serakah dan tidak merasa puas dengan apa yang ada padanya, pastilah tidak akan pernah memiliki ketenangan dalam jiwanya. Kalau oleh cara berpikirnya yang salah cara memandang hidup sudah keliru maka ia tidak akan dapat menikmati damai sejahtera Tuhan.

Cara berpikir yang salah tidak akan dapat membuat seseorang bersukacita di dalam Tuhan, sebab cara berpikir yang salah merupakan belenggu yang dapat memenjara seseorang sehingga tidak dapat menikmati damai sejahtera Tuhan. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus berkata bahwa kebenaran akan memerdekakan (Yoh. 8:31-32).

Oleh sebab itu orang percaya harus tetap dalam Firman agar mengenal kebenaran. Tetap dalam Firman artinya berusaha untuk mengerti Firman. Itulah sebabnya Paulus menasihati orang percaya untuk mengalami pembaharuan pikiran (Rm. 12:2)

Cara berpikir yang salah juga tidak akan dapat menciptakan suasana jiwa yang baik atau tidak akan dapat menghadirkan suasana atmosfir Kerajaan Surga. Jadi perlu ditegaskan bahwa seseorang tidak akan dapat menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaannya kalau belum mengalami perubahan pola berfikir atau filosofi hidupnya.

Semakin cara berpikir seseorang berubah, maka damai sejahtera atau kebahagiaan seseorang di dalam Tuhan juga semakin bertumbuh.

Jadi, untuk menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan atau damai sejahtera dibutuhkan proses panjang dan perjalanan waktu yang tidak singkat.

Semakin pola pikir seseorang berubah, maka semakin kuat damai sejahtera dan sukacita dialami. Oleh sebab itu pelayanan harus mengubah cara berpikir jemaat yang salah tersebut. Tuhan YESUS Memberkati Sola Gracia Σηαλομ shalom שאלום ₪ (truth)

Advertisements

Persiapan Dunia Yang Akan Datang.

Akibat manusia jatuh dalam dosa memang manusia tidak menjadi manusia yang rusak moralnya sama sekali, artinya tidak hidup dalam gelap sama sekali.

Manusia tidak berubah menjadi binatang. Manusia masih tetap bisa berbudi baik dan santun, tetapi manusia tidak memiliki pengenalan akan Allah dan tidak mampu melakukan kehendak Allah, artinya manusia tidak bisa memiliki kehidupan dalam terang secara ideal.

Manusia juga telah kehilangan damai sejahtera, sukacita jiwa yang tertopang oleh Roh Kudus. Manusia hidup dalam takut cemas, kuatir dan berbagai perasaan negatif lain. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia memberi terang.

Firman Tuhan berkata bahwa dalam Dia ada hidup, dan hidup itu terang manusia (Yoh. 1:4-5). Apa maksudnya? Kalimat ini ternyata berhubungan dengan pernyataan Tuhan dalam Yoh 14:6 dan Yoh 10:10, bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup supaya manusia hidup di dalam kelimpahan.

Kata hidup dalam teks-teks tersebut adalah Zoe. (ζοε) Kata zoe biasanya digunakan untuk menunjuk hidup yang bermutu tinggi. Inilah hidup orang-orang yang diperbaharui di dalam Tuhan.

Pembaharuan dalam Tuhan Yesus bukan hanya mengubah orang non Kristen menjadi Kristen. Juga tidak cukup mengubah orang yang tidak bermoral menjadi orang yang bermoral.

Dalam Yohanes 1:4-5 tertulis: Dalam Dia ada hidup, artinya ada hidup yang berkualitas tinggi. Oleh karenanya dikatakan bahwa Tuhan memberi hidup dalam kelimpahan. Kata kelimpahan dalam teks aslinya Perissos (περισσος) yang bisa diterjemahkan abundantly, tetapi juga dapat diterjemahkan very highly, sangat tinggi.

Hidup yang sangat tinggi artinya sangat berkualitas atau mutunya tinggi. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia memberi terang berarti memberi kemampuan manusia melakukan kehendak Tuhan dan menikmati damai sejahtera-Nya.

Kedatangan Tuhan Yesus hendak mengajarkan kehidupan yang mutunya lebih baik sebagai persiapan untuk hidup di dunia yang akan datang. Gereja harus mengajarkan secara lengkap dan utuh, tidak menekankan yang lain.

Menjadi orang percaya adalah pembelajaran mengenakan hidup yang baru. Itulah sebabnya menjadi orang percaya berarti menjadi murid. Kepada orang-orang yang datang kepada Tuhan Yesus, Ia berkata: Belajarlah pada-Ku (Mat. 11:28-29).

Dengan demikian kalau dikatakan bahwa terang mengubahkan artinya bahwa kedatangan Tuhan mengajarkan hidup yang baru, sehingga orang yang menerima-Nya mengalami hidup dalam terang. Tuhan Yesus Memberkati Sola Gracia. שאלום شلام σηαλομ.
By the truth-media.com

IMG_2735.PNG

YANG HARUS KITA LAKUKAN UNTUK MEMBALAS KEBAIKAN TUHAN.

Mari kita renungkan kembali segala kebaikan Tuhan, kesengsaraan-Nya dan apa yang telah Dia perbuat bagi kita. Tuhan Yesus mati bagi kita, tetapi pada hari yang ketiga Dia bangkit dari kematian. Tuhan Yesus melakukan semuanya itu untuk kita, apa yang harus kita perbuat untuk membalas segala kebaikan-Nya?

1.“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (I Korintus 6:19-20 )
Bagaimana Tuhan Yesus membeli kita dari tangan iblis. Dia datang kepada iblis dengan darah-Nya. Sekarang kita bukan lagi milik iblis maupun milik diri kita sendiri, tetapi milik Tuhan Yesus sendiri. Karena itu Dia hidup di dalam kita, tingkah laku kita, supaya kita hidup sesuai dengan Firman Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah Saudara meminta izin kepada yang punya yaitu Tuhan Yesus? Ingat tubuhmu bukan milikmu sendiri, tapi itu adalah milik Tuhan. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Biarlah orang-orang yang melihat kita akan melihat Yesus Kristus. Kita harus menjadi garam dan terang di tengah mereka. Itulah yang harus kita lakukan untuk membalas semua kebaikan Tuhan itu.

2.“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” (I Kor 7:23 )

Kita ini adalah hambanya Tuhan bukan hamba manusia. Artinya yang pertama, kalau misalnya atasan Saudara menyuruh Saudara melakukan hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Apakah Saudara akan lakukan? Tidak!! Kalau itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Yang Kedua, Kol 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Berarti kalau Saudara bekerja untuk seseorang, tidak perlu orang itu mengontrol dan melihat dengan ketat, Saudara akan bekerja dengan baik dan dengan tanggung jawab.
Ingat setiap upah kita yang kita lakukan, Tuhanlah yang memberinya. Kadang-kadang itu bisa melalui manusia. Jadi janganlah kita mengeluarkan maki-makian kepada atasan kita, karena itu akan menghambat berkat Tuhan. Kalau Tuhan yang memberi upah, tidak akan ada yang bisa menahannya. Mungkin ada orang yang berusaha untuk menahan, tapi Dia yang akan memakai berbagai jalan, sehingga upah itu sampai di Saudara. Semuanya akan menjadi baik. Yang penting dari pihak kita adalah apapun yang kita perbuat, lakukan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia, karena kita adalah hamba Tuhan, Yesus Kristus. Amin.
komunitasalkitab.files.wordpress.com

Dikembalikan Keterangan Yang Idial

Pada jaman Perjanjian Lama, sukacita dan kegembiraan hidup manusia pada umumnya bertumpu pada pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti hasil panen baik dengan berlimpah, menang atas musuh, tidak terkena epidemi penyakit, memiliki kerajaan yang jaya dan lain sebagainya yang berorientasi pada hal-hal duniawi.

Itulah sebabnya bila Perjanjian Lama berbicara mengenai berkat maka hal ini pada umumnya menunjuk pada pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata.

Jadi, walau pun manusia telah jatuh dalam dosa tetapi manusia pada umumnya masih bisa memiliki kegembiraan yang ditopang oleh fasilitas dunia ini, tetapi mereka tidak bisa memiliki damai sejahtera di dalam Tuhan seperti umat Perjanjian Baru.

Berbeda dengan jaman anugerah.

Masuk jaman Perjanjian Baru tumpuan atau landasan sukacita dan kegembiraan hidup berbeda. Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Damai sejahtera yang dimaksud ayat ini sama dengan damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus yang berbeda dengan dunia ini (Yoh. 14:27). Paulus mengatakannya sebagai damai sejahtera yang melampaui segala akal (Flp. 4:7).

Bila Perjanjian Baru berbicara mengenai berkat maka hal ini pada umumnya lebih menunjuk pada keselamatan, yaitu bagaimana seseorang dijadikan sempurna. Orientasi berpikir orang percaya adalah langit baru dan bumi baru, sementara masih hidup dan tinggal di bumi, maka segenap hidupnya harus diarahkan untuk proses penyempurnaan dan pelayanan bagi pekerjaan Tuhan.

Tujuan hidup orang percaya hanyalah langit baru dan bumi yang baru dimana Tuhan Yesus sudah menunggu kita semua. Sementara masih di bumi ini orang percaya bisa menikmati damai sejahtera Tuhan yang tidak ditopang oleh fasilitas dunia.

Sesungguhnya terang yang mengandung dua elemen yaitu mengenal Tuhan dan melakukan keinginan-Nya (bukan sekedar melakukan hukum) dan sukacita damai sejahtera di dalam Tuhan, telah hilang. Hidup dalam terang yang ideal tidak lagi dimiliki manusia sejak manusia jatuh ke dalam dosa.

Manusia tidak lagi mampu mengenal Tuhan dengan baik dan tidak mampu melakukan kehendak-Nya dan manusia tidak memiliki damai sejahtera Allah yang ideal.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kepada keadaan sesuai rancangan semula yaitu bisa melakukan kehendak Tuhan dan menikmati damai sejahtera-Nya.
Amin Tuhan Yesus Memberkati Sola Gracia Σηαλομ שאלום شلام. By the truth-media.com

IMG_2702.JPG

Hidup Dalam Terang Yang Sesungguhnya.

Dalam Alkitab, orang yang hidup dalam pelanggaran hukum dikatakan sebagai orang yang hidup dalam gelap.

Hal ini hanya berlaku pada jaman Perjanjian Lama, dimana manusia masih hidup dibawah hukum. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang melakukan hukum berarti memiliki hidup yang kekal dan memiliki kualitas hidup yang baik (Mat. 19:16-19). Pada jaman itu belum ada anugerah keselamatan dengan fasilitasnya (penebusan, Roh Kudus, Injil dan penggarapan Allah melalui segala perkara).

Tanpa fasilitas keselamatan, manusia belum bisa dibawa kepada rancangan Allah semula. Walaupun umat Perjanjian Lama bisa melakukan hukum-hukum Tuhan dengan baik, tetapi kualitas hidup mereka belumlah ideal sesuai manusia yang dirancang semula oleh Allah. Jadi mereka tidak dituntut untuk menjadi sempurna seperti Bapa.

Umat Perjanjian Lama hanya dituntut untuk hidup sesuai dengan hukum dan peraturan agama. Di jaman Perjanjian Baru orang yang hidup sesuai dengan hukum belum tentu sudah berkategori hidup di dalam terang. Jadi sesungguhnya tokoh-tokoh Perjanjian Lama sehebat apapun mereka, mereka belum menemukan atau mengenakan kemuliaan Allah yang hilang (Rm. 3:23).

Dari sudut pandang Perjanjian Baru hanya orang yang mengerti atau mengenal kehendak Tuhan dan melakukannya berarti hidup dalam terang (2Kor. 4:6). Jadi kalau orang percaya tidak mengerti kehendak Tuhan dan tidak mengenal Tuhan dengan baik berarti belum hidup di dalam terang (walau sebaik apa pun orang tersebut secara moral umum).

Orang yang hidup di dalam terang adalah orang-orang yang berjalan sepikiran dan seperasaan dengan Tuhan. Orang yang hidup di dalam terang melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan komando Tuhan.

Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Tentu saja tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah adalah perbuatan kasih sebab semua tindakan diluar kehendak dan komando-Nya bukan kasih sebaik apa pun perbuatan tersebut (hal ini khusus untuk umat Tuhan Perjanjian Baru).

Dengan demikian kita bisa mengerti mengapa Firman Tuhan mengatakan bahwa dalam Tuhan Yesus ada terang manusia, artinya hanya melalui Tuhan Yesus seseorang bisa mengerti kehendak Bapa dengan sempurna (Yoh. 1:4).
Hanya Tuhan Yesus yang mampu mengerti dan melakukan keinginan Bapa.

Dan Dia membawa orang percaya untuk memiliki kehidupan yang serupa. Amin Tuhan Yesus Memberkati. Truth-media.com

IMG_2058-0.JPG

Dapat Menolak.

Dapat Menolak.

Dalam 1 Korintus 10:11-12, jelas dikatakan bahwa sejarah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan menjadi contoh bagi kita yang hidup pada jaman akhir ini.

Kata contoh dalam teks aslinya adalah tupos (τύπος) yang artinya juga pola (pattern). Jadi, sangatlah keliru kalau orang berpikir bahwa seorang Kristen tidak mungkin bisa gagal dalam pengiringannya kepada Tuhan Yesus.

Semua yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel menjadi pola atau tatanan yang tetap (pattern). Kegagalan adalah bagian dari realitas kehidupan ini. Itulah sebabnya Tuhan berkali-kali mengatakan agar kita tetap setia sampai akhir. Dalam Matius 23: 37 tertulis: Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa Tuhan sudah berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu tetapi mereka tidak mau, bukan karena Tuhan yang mengeraskan hati mereka atau membuat mereka tidak bisa menolak anugerah.

Dalam hal ini, tidak mungkin Tuhan bersandiwara, sementara Ia kelihatannya menyelamatkan bangsa Israel tetapi diam-diam sisi lain Ia mengeraskan hati mereka agar tidak bisa menerima anugerah. Fakta yang tidak bisa dibantah (seperti telah dijelaskan) bahwa bangsa itu bisa menolak anugerah Tuhan dengan sengaja dan sadar. Dalam hal ini kita tidak bermaksud melecehkan kemahakuasaan Allah atau kedaulatan-Nya, seakan-akan Tuhan tidak berdaya mengatasi keras kepalanya bangsa Israel.

Dengan hormat kita mengakui bahwa kedaulatan Tuhan, tetapi kita juga mengakui bahwa Tuhan berdaulat memberi manusia kehendak untuk menentukan keadaannya sendiri. Manusia diberi kebebasan untuk meresponi tindakan Pencipta-Nya dalam menyediakan anugerah, tetapi manusia bisa menolak atau menerima anugerah tersebut.

Walaupun sebagian mereka adalah umat pilihan karena nenek moyang mereka kekasih Allah, tetapi karena mereka menolak Injil, maka mereka berstatus sebagai seteru (musuh) Allah. Bagaimana ini bisa terjadi? Ya walaupun Allah memilih mereka sebagai umat pilihan anak keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, maka mereka pun ditolak Allah.

Satu pihak Allah memilih, tetapi pihak lain mereka menolak untuk dipilih menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, maka mereka pun binasa.
Amin Tuhan Yesus Memberkati Sola Gracia.

IMG_2085-1.PNG

Dapat Menolak.

Shalom.
Selamat pagi & Beraktifitas.
Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Dapat Menolak.

Dalam 1 Korintus 10:11-12, jelas dikatakan bahwa sejarah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan menjadi contoh bagi kita yang hidup pada jaman akhir ini.

Kata contoh dalam teks aslinya adalah tupos (τύπος) yang artinya juga pola (pattern). Jadi, sangatlah keliru kalau orang berpikir bahwa seorang Kristen tidak mungkin bisa gagal dalam pengiringannya kepada Tuhan Yesus.

Semua yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel menjadi pola atau tatanan yang tetap (pattern). Kegagalan adalah bagian dari realitas kehidupan ini. Itulah sebabnya Tuhan berkali-kali mengatakan agar kita tetap setia sampai akhir. Dalam Matius 23: 37 tertulis: Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa Tuhan sudah berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu tetapi mereka tidak mau, bukan karena Tuhan yang mengeraskan hati mereka atau membuat mereka tidak bisa menolak anugerah.

Dalam hal ini, tidak mungkin Tuhan bersandiwara, sementara Ia kelihatannya menyelamatkan bangsa Israel tetapi diam-diam sisi lain Ia mengeraskan hati mereka agar tidak bisa menerima anugerah. Fakta yang tidak bisa dibantah (seperti telah dijelaskan) bahwa bangsa itu bisa menolak anugerah Tuhan dengan sengaja dan sadar. Dalam hal ini kita tidak bermaksud melecehkan kemahakuasaan Allah atau kedaulatan-Nya, seakan-akan Tuhan tidak berdaya mengatasi keras kepalanya bangsa Israel.

Dengan hormat kita mengakui bahwa kedaulatan Tuhan, tetapi kita juga mengakui bahwa Tuhan berdaulat memberi manusia kehendak untuk menentukan keadaannya sendiri. Manusia diberi kebebasan untuk meresponi tindakan Pencipta-Nya dalam menyediakan anugerah, tetapi manusia bisa menolak atau menerima anugerah tersebut.

Walaupun sebagian mereka adalah umat pilihan karena nenek moyang mereka kekasih Allah, tetapi karena mereka menolak Injil, maka mereka berstatus sebagai seteru (musuh) Allah. Bagaimana ini bisa terjadi? Ya walaupun Allah memilih mereka sebagai umat pilihan anak keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, maka mereka pun ditolak Allah.

Satu pihak Allah memilih, tetapi pihak lain mereka menolak untuk dipilih menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, maka mereka pun binasa.
Amin Tuhan Yesus Memberkati Sola Gracia.