Kenyamanan yang Membahayakan

Kenyamanan yang Membahayakan

Baca: 1 Korintus 9:24–27

Alkitab dalam setahun: Pengkhotbah 1–4g
I’m

Bahaya besar jika kita membiarkan diri kita terbuai dalam zona kenyamanan rohani, sehingga lupa untuk mencari dan menemukan Tuhan secara benar. Hati-hati jika kita merasa bahwa diri kita sudah bijaksana, cukup umur, memiliki banyak pengalaman dan prestasi kehidupan, apalagi kalau ditambah banyak uang. Kenyamanan seperti ini dapat membutakan kita terhadap kebenaran yang murni. Kebijaksanaan yang kita rasakan ini malah membuat kedewasaan iman kita miskin, sehingga Allah menyembunyikan hikmat-Nya (Mat 11:25).

Itulah sebabnya Tuhan Yesus menuntut agar orang-orang yang mengikut Dia melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat 19:21). Orang-orang yang merasa dirinya sudah mapan cenderung terjebak dalam keangkuhan terselubung, sehingga tanpa merendahkan diri dan melepaskan segala keterikatan, nilai diri yang dimilikinya akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh menuju kedewasaan iman dalam Tuhan. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka, sehingga dapat jatuh dan binasa.

Jangan hanya menganggap bahaya kenyamanan ini hanya membayangi orang-orang awam. Rohaniwan gereja seperti pendeta, majelis dan aktivis yang merasa sudah memiliki standar kerohanian yang baik juga bisa dibutakan oleh kedudukan dan jabatan gerejawi yang melekat dalam diri mereka. Mereka menganggap dirinya sudah menjadi orang Kristen yang tidak tercela, namun standarnya hanyalah kehidupan keberagamaan, bukan mencapai target yang dicanangkan Bapa.

Orang-orang ini bagaikan petinju yang naik ring tetapi tidak ingin menang, sehingga bertinju sembarangan; atau pelari yang ikut perlombaan, tetapi larinya santai-santai saja seperti tidak ada yang dikejarnya. Kalau diibaratkan sebagai orang yang mengemudikan mobil, ia merasa perlu mengemudi dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, tidak perlu mempercepat lajunya. Baginya kalau kecepatan ditingkatkan, menyusahkan dirinya, dan perjalanan menjadi kurang menyenangkan. Tidak ada yang dikejar; kalau santai-santai saja, ia bisa melakukan banyak hal dan berhenti beristirahat sesukanya. Ia tidak menyadari bahwa perjalanannya bisa diakhiri setiap saat, ada sasaran atau target yang harus dicapai, yaitu tiba di tujuan pada waktu yang ditentukan. Jika ia sadar, maka ia tidak akan santai. Ia akan berfokus kepada tujuannya, dan menggunakan strategi, seperti petinju yang cerdas.

Tinggalkan zona kenyamanan rohani

dan berfokuslah kepada tujuan yang ditentukan Allah.

Good night all, Jesus Love You Always σηαλομ.

IMG_1791-0.JPG

IMG_1791-1.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s