Τιδακ Μενχεγαη.

Tidak Mencegah.

Dari Ibrani 3:7-11 jelas sekali ditunjukkan bahwa Tuhan sudah berusaha menunjukkan perbuatan besar-Nya dan tuntunan-Nya agar umat pilihan-Nya, bangsa Israel bisa dengar-dengaran atau taat, tetapi ternyata mereka tidak mau percaya dan dengar-dengaran. Seharusnya dengan melihat perbuatan Tuhan, mereka bisa bertobat.

Tetapi ternyata mereka keras kepala. Dalam kaitan dengan hal ini, tidak ditemukan penjelasan bahwa Tuhan mengeraskan hati bangsa Israel sehingga mereka tidak sampai tanah Kanaan. Merekalah yang mengeraskan hati mereka sendiri dengan tidak mau tunduk dan dengar-dengaran kepada Tuhan walau pun mereka sudah melihat perbuatan Tuhan yang ajaib. Berkenaan dengan hal ini juga ditunjukkan kepada kita bahwa mukjizat belum tentu membuat orang bertobat. Bahkan orang yang sudah mengadakan mukjizat bukan jaminan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23).

Kalau Tuhan sudah berulang-ulang memberi kesempatan seseorang untuk bertobat tetapi mereka tidak bertobat, maka Tuhan bisa mengeraskan hati mereka. Mengeraskan hati maksudnya Tuhan tidak lagi mencegah seseorang sehingga hatinya menjadi keras dan tidak dapat menyambut anugerah-Nya. Jadi, Tuhan bukan seperti orang sakit jiwa atau psikopat yang sembarangan mengeraskan hati orang tanpa alasan dan pertimbangan.

Kalau dalam berbagai kesempatan Tuhan mengeraskan hati orang-orang tertentu, hal ini hendaknya tidak menjadi ukuran umum artinya jangan berpikir bahwa Tuhan secara sembarangan dan sewenang-wenang mengeraskan hati orang. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa hati seseorang harus dikeraskan. Dalam suratnya Paulus mengatakan bahwa semua peristiwa mengenai bangsa Israel menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:11-12).

Menjadi contoh artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Perhatikan kata peringatan bagi kita, kita di sini menunjuk orang yang mengaku Kristen, bahkan sudah merasa sebagai orang percaya bisa mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel. Dalam tulisannya, Paulus hendak menganalogikan kegagalan sebagian bangsa Israel dengan perjalanan hidup orang percaya. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita (1Kor. 10:6).

Ditegaskan kembali di ayat 11: Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. Amin Tuhan Yeus Memberkati σηαλομ.
http://www.truth-media.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s